PROFIL KAMI

LINK PENDIDIKAN

karir

STATISTIK KUNJUNGAN
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini48
mod_vvisit_counterKemarin230
mod_vvisit_counterMinggu ini702
mod_vvisit_counterBulan ini6109
mod_vvisit_counterTotal233733
GALERI


Bookmark and Share
TAUZIAH
Meraih Ilmu dengan 6 Perkara

Saudaraku …

Engkau tidak akan memperoleh ilmu kecuali dengan 6 perkara,

aku akan menyebutkan perinciannya dengan jelas:

cerdas, ambisi (ketekunan), usaha, dana, berguru dan waktu yang lama.

(Imam Syafi’i)

Artikel Terbaru
Please update your Flash Player to view content.
MENGENAL GAYA BELAJAR ANAK-ANAK KITA PDF Print E-mail

“ Setiap orang berbuat sesuai dengan pembawaannya masing-masing, maka Tuhanmu Lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.” (QS. Al Israa’:84)
“Didiklah anakmu sesuai dengan jamannya karena ia hidup dengan jaman yang berbeda dengan jamanmu” (Ali bin Abi Tholib RA.)


Tulisan ini merupakan pengalaman saya ketika mengajar murid-murid kelas 1 SDIT Mentari Indonesia. Di ruang kelas yang maksimal terdapat 20 orang murid dengan karakter  dan gaya yang berbeda-beda. Tahun pertama mengajar menjadi hal yang penuh tantangan bagi saya dimana saya harus menghadapi permasalahan murid, mulai bermain dan berlari-lari saat guru menerangkan pelajaran, siswa yang bertengkar dengan teman, tidak fokus pada pelajaran, mengobrol, hingga melawan bahkan memukul kepada guru.



Walaupun terkadang timbul rasa panik dan agak emosi, saya berusaha untuk mempelajari bagaimana menghadapi dan menangani anak dengan kondisi-kondisi tersebut, tanpa menjatuhkan harga diri mereka, dan mereka harus mengetahui bahwa sesungguhnya saya mencintai mereka. Seperti yang dikatakan seorang peneliti bahwa untuk menjadi seorang ahli dibutuhkan waktu minimal 10 tahun untuk mendalami suatu bidang pekerjaan. Begitu pula menjadi seorang pendidik. Walaupun pengalaman saja tidak cukup dan perlu adanya pengembangan-pengembangan ilmu mendidik sesuai dengan perkembangan jaman. Saya menikmati proses untuk menjadi seorang pendidik profesional walaupun harus melewati pengalaman-pengalaman yang beragam penuh dengan tantangan.

Dalam menangani kasus anak yang beragam tersebut, saya mencoba meminta rekan guru untuk berbagi pengalaman mereka. Tentunya tiap-tiap mereka memiliki gaya tersendiri dan saya harus menentukan gaya yang sesuai dengan diri saya sebagai seorang pendidik. Selain itu, saya bertanya ke beberapa konsultan pendidikan dan tentu saja menggali dari buku dan internet. Ternyata ada beberapa faktor yang menyebabkan perbedaan sikap anak saat belajar. Salah satunya adalah perbedaan gaya belajar.

Menurut Barbara Prashing dalam The Power of Learning Styles dan Colin Rose dalam Accelerated Learning, ada tiga gaya belajar yang dimiliki tiap-tiap individu, yaitu:
1. Visual. Yaitu belajar melalui melihat sesuatu. Siswa suka melihat gambar atau diagram, suka pertunjukkan, peragaan, atau menyaksikan video.
2. Auditori. Yaitu belajar melalui mendengar sesuatu. Dimana kita suka mendengarkan kaset audio, ceramah, diskusi, dan instruksi (perintah) verbal.
3. Kinestetik. Yaitu belajar melalui aktifitas fisik dan keterlibatan langsung. Kita suka “menangani” bergerak, menyentuh, dan merasakan/mengalami sendiri.

Dan menurut penelitian, kebanyakan orang memiliki modalitas belajar kinestetik. Hal ini serupa pula dengan pendapat Steven Covey dalam 8 Habits of Effective People dimana Physical Question ( PQ) berperan penting dalam mempelajari sesuatu secara efektif. Prof. Rhenald Kasali, P.hd dalam Mucles Memoryjuga menjelaskan pentingnya memberdayakan aktivitas otot (mucles) dalam pembelajaran dan pembentukan karakter. Ibu Ery Soekresno, psikolog dan Universitas Indonesia mengemukakan, para guru sebaiknya menekankan aspek psikomotorik lebih banyak dalam pembelajaran. Dengan menekankan pada aspek psikomotor, maka pencapaian kompetensi kognitif dan afektif secara otomatis akan tercapai karena aspek psikomotor sudah mencakup kedua aspek tersebut.

Selain perbedaan gaya belajar, ada hal lain yang harus saya perhatikan dalam mendidik murid-murid agar mereka dapat belajar dengan baik. Ibu Luluk Rohmah salah seorang konsultan pendidikan dari Rumah Perubahan menjelaskan bahwa guru harus memperlakukan murid dengan baik dan dengan kata-kata serta pendekatan positif. Ibu Luluk menyampaikan bahwa anak murid itu,
1.    Unik
2.    Peneliti Andal
3.    Komunikator
4.    Pelaku utama
Oleh karena itu, saya mencoba untuk menerapkan prinsip diatas. Dan Alhamdulillah, walaupun masih harus terus belajar dan meningkatkan teknik mengajar, ketika mengajar ditahun ajaran baru ini saya dapat menyimpan energi lebih banyak dalam mendidik mereka dibandingkan tahun sebelumnya, sebab sedikit demi sedikit saya menerapkan beberapa kunci-kunci sukses mendidik positif. Ibu Luluk juga memberikan saran untuk membuat kesepakan bersama tentang aturan main yang akan dipakai saat belajar. Saya juga mengajak mereka bermain games yang sesuai dengan tema pembelajaran danbernyanyi. Diharapkan para murid bergembira, dan dengannya mereka termotivasi untuk belajar.

Dari pengalaman, berbagi dengan guru lain, serta mendapat pencerahan dari para ahli pendidikan, semoga memperkuat kita dalam mendidik murid-murid dengan cinta, positif, dan sesuai dengan fitrah serta gaya belajar mereka. Semoga kelak anak didik kita menjadi seorang pribadi yang sholih/sholihah serta unggul sesuai dengan bakat (pembawaan) mereka. Amiin

 

Penulis: Ratna Nurlaila, S.Pd

 
 
LATEST NEWS
Tulisan Siswa
BLOG SISWA
PILIH BAHASA
DOWNLOAD
WAKTU SHOLAT
KALENDER HIJRIYAH